Jadi SUperhero, Menolong Nenek

Surel Cetak PDF

Jadi Superhero, Menolong Nenek

Oleh : NAHDAH LATHIFA

Kelas VII – SMPN 258

Saat di rumah, aku sengaja melihat film yang berjudul  ‘Superhero’. Aku menontonnya sambil makan kacang-kacangan. Tanpa  terasa pagi ini sudah terlihat terang. Lalu aku bergegas sambil berpamitan kepada kedua orang tua. Saat di sekolah aku menghela nafas, sambil berkata, “ Huh, Untung belum terlambat”. Akupun mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru.

Dua jam kemudian bel sekolah berbunyi.  Waktunya jam istirahat. Aku  bersama temanku Vino bercerita tentang superhero sambil memakan cemilan. “ Vin tau gak film superhero tadi pagi ? “  Aku bertanya sambil memakan cemilan yang dibeli di sekolah.

Tanpa berfikir lama vino menjawab, “ Iya aku tau,   kenapa ?”

“ Film itu seru. Seandainya aku menjadi superhero, “ ungkapku  sambil membayangkan menjadi superhero. “ Kalau aku jadi superherio pasti aki bisa membawa orangtuaku terbang.”

“ Superhero itu bukan hanya bisa membawa orang tuamu terbang, tapi jadi superhero itu menolong orang-orang yang dalam  butuh pertolongan sekaligus melawan kejahatan,” kata Vino yang memotong pembicaraanku.

Setelah istirahat aku kembali ke pelajaran kedua. Bu guru menayakan kepada kami semua soal cita-cita. “Anak-anak apa cita-cita kami semua ?”  Adayang bilang ingin jadi dokter, ada lagi pilot, ada lagi  polisi dan banyak lagi. Tiba-tiba Ibu guru menghampiriku, Aku kaget dan gugup saat ditanya oleh ibu guru. “ Reno, kamu mau jadi apa nanti kalau besar ? “ Kata ibu guru sambil tersenyum kepadaku. Aku gugup karena semua teman-teman menatap matanya ke arahku. Dalam hatiku, aku mau jadi apa ya ? Mau jadi pilot atau dokter ya? Lama sekali berfikir.  Bu guru bertanya lagi kepadaku sambil alisnya dinaikan sedikit. “ Apa cita citamu Reno?”

Aku menjawab dengan suara lantang yang semangat. “Aku mau menjadi Superhero bu guru!”  Semua teman-teman menertawaiku. “ Kenapa? Memang benar  kan bu guru? Malah kalau jadi superhero itu mendapat pahala. Kalau kita menolong banyak orang, benarkan bu guru? “  Aku menutupi wajahku dengan buku,  karena malu.

“Tidak apa-apa Reno, semua orang boleh mengungkapkan film kesukaannya. “ bu guru  tersenyum kepadaku.

Aku heran, “ Kok film bu guru ?”

Bu Guru menjawab dengan tersenyum dan mengelus tangannya ke kepalaku.  “ Bu Guru tau tadi pagi kamu nonton film superhero kan. ?”

“ Kok Ibu guru tau?’ Aku heran.

“Tidak apa-apa Reno. Walau itu cuma sebuah film tapi kita bisa mengambil pelajarannya loh anak anak”. Jelas bu guru.

“Pelajaran apa bu guru?: Kata temanku sambil terheran heran. Geli sekali aku melihatnya. Pelajaran yang bisa kita ambil itu belum selesai dijelaskan oleh bu guru. Belum sempat menjelaskan, tiba-tiba bel pulang berbunyi. Kamipun memberi salam untuk pamit dan bu guru mengingatkan bahwa besok libur.

Saat pulang  aku  melihat ada seorang nenek tua yang kesulitan saat hendak menyebrang jalan. Saat itu memang lampu merah sedang rusak,  jadi banyak mobil yang tidak mau berhenti. Kasian sekali nenek itu. Mungkin kalau aku menolong nenek  ini aku bisa menjadi superhero.

“ Nenek sini biar aku bantu.” Aku menuntun nenek sambil membawa tas belanjannya.

“ Terima kasih ya nak,”  Nenek itu tersenyum sambil memberi uang kepadaku.

“ Tidak usah nek aku ikhlas. Terimakasih nek. Aku ingin menjadi superhero.” Jelasku sambil terasa bangga. “ Ups, nek aku pamit pulang ya, Assalamualaikum.” Aku lari  dan tanpa aku sadari kepalaku tertabrak tiang jalan. Emm, untung nggak ada siapa-siapa  yang liat hehe.

Sesampainya di rumah aku disambut oleh ibu. “ Ren, tadi belajar apa ? ”

“Banyak deh pokoknya hehe. Oh iya bu, aku ada PR, aku mau mengerjakan dulu ya.”

Setelah mandi aku makan dan masuk kamar. Huh lelahnya. Aku melemparkan tubuhku ke keranjang kasur. Aku berfikir. Ibuku kan bisa menjahit baju. Ehm, bagaimana kalau aku menggambar kostum superhero yang aku inginkan.  Dari pada beli, lebih baik buat sendirij. Sampai malam  baru aku selesai dan aku membawa gambar kostum yang aku rancang sendiri.

Aku menghampiri ibuku.  “Bu, bisa nggak buatkann aku kostum seperti ini ? sambil aku menaruh gambarku ke meja jaiht ibu.

“ Boleh, memang buat apa? “ tanya ibu sambil menaruh tangannya di dagu.

“ Nggak buat apa-apa kok bu.” Aku tersenyum lebar.

“ Oh,ya sudah. Kamu tidur dulu. Sudah malam, besok kan kamu sekolah ?”

“ Besok libur bu, kan tanggal merah.”  Aku memotong pembicaraan ibuku.

“ Oh Begitu, tapi mesti tidur karena sudah larut malam,” tutup ibuku. (*)

 

Jakarta, 5 Agustus 2018

Related image
Share
No images

© kampungbuku.org